Hakikat Kesabaran

Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka (Q.S. Al-Furqaan [25] : 75)

MengenalSabar

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan didalam tubuh.”(Al Fawa’id, hal.95)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.” (Syarh Tsalatsul Ushul, hal.24)

Macam-macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin membegi kesabaran menjadi 3 macam, yaitu :

  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul diluar kekuasaan manusia ataupun yng berasal dari orang lain. (Syarh Tsalatsul Ushul, hal.24)

 

Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

 

Sabar dan Syukur

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan ra, beliau mengatakan “Rasulullah saw pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan orng yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila ia ditimpa kesenangan maka ia bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila ia tertimpa kesulitan  maka ia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.”  (H.R Muslim)

Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa manusia dalam menghadapi takdir Allah yang berupa kesenangan dan kesulitan terbagi menjadi 2, yaitu kaum yang beriman dan yang tidak beriman

Adapun orang yang berimn bagaimanapun kondisinya selalu baik baginya. Apabila ia mendapat kesulitan maka ia bersabar dan tabah menunggu datangnya jalan keluar dari Allah serta mengharapkan pahala dengan kesabarannya itu. Dengan demikian ia memperoleh pahala orang-orang yang sabar. Maka itu baik baginya

Sedangkan apabila seorang mukmin menerima nikmat diniyah maupun duniawiyah maka dia bersyukur yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Sehingga syukr bukan saja mencakup ucapan tetapi juga harus dilengkapi dengan melaksanakan ketaatannya kepada Allah. Sehinnga orang yang beriman memiliki dua nikmat ketika mengalami kesenangan yaitu nikmat dunia dengan merasa senang dan nikmat diniyah dengan bersyukur. Maka ini pun baik baginya.

Adapun orang kafir mereka dalam keadaan buruk sekali. Apabila ditimpa kesulitan mereka tidak mau bersabar, bahkan tidak mau terima, memprotes takdir, mendoakan kebinasaan, mencela masa dan caci maki lainnya. Sedangkan ketika mendapat kesenangan dia tidak bersyukur kepada Allah. Maka kesenangan yang dialami orang-orang kafir ini kelek menjadi siksaan di akhirat.

 

Surga Bagi Orang yang Sabar

Allah swt. berfirman yang artinya “(yaitu ) syurga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan) : “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.S. Ar-Ra’d : 23-24)

 

Dikutip dari “Hakikat Kesabaran”, Oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi

 

 

2 thoughts on “Hakikat Kesabaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s